DTG vs sablon manual: keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

DTG vs sablon manual: keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

DTG vs Sablon manual. Membincangkan masalah itu sama halnya membahas dunia sablon kaos dengan beragam tekniknya, tentu tidak bisa dilepaskan dari masalah efektivitasnya. Hal itu juga berlaku ketika kita membahas soal DTG dan sablon manual. Pasti insan yang menggeluti dunia sablon mempertanyakan, mengamati, dan menguji bagaimana kelebihan dan kekurangan di antara keduanya.

Berdasarkan pengalaman KAOSPOSMO menggeluti sablon, beginilah kesimpulan mengenai  kelebihan-kekurangan DTG dan sablon manual:

1.DTG mencetak tanpa film. Inilah mengapa DTG bermain di wilayah pasar jasa sablon satuan. Desain dari komputer langsung cetak di kaos. Berbeda dengan sablon manual/screen printing yang harus menggunakan film (membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya) sehingga kebanyakan hanya menerima order lusinan atau pemesanan dalam jumlah massal. Walhasil, DTG lebih menang dalam melayani konsumen dengan order satuan.

2. Proses printing kaos menggunakan DTG yang notabene menggunakan mesin berkecepatan lambat. Kebanyakan DTG rakitan anak negeri di Indonesia menggunakan basis printer epson yang untuk mencetak kaos gelap (2 tahap cetak) membutuhkan waktu sekitar 20 s.d. 30 menit tergantung besaran area cetak. Maka untuk produksi massal, misal lusinan/ratusan kaos dalam tempo satu hari, jelas DTG kurang bisa diandalkan, kecuali memiliki lebih dari satu mesin DTG yang bekerja secara sehat.

Lain dengan sablon manual yang proses gesutnya sangat cepat. Satu menit saja bisa menggusut 2 atau tiga kaos. Inilah alasannya mengapa gelar raja sablon untuk produksi massal tetap dipegang oleh sablon manual alias screen printing.

3. DTG sebagai mesin pencetak dengan akurasi pembacaan warna cukup tinggi sangat memanjakan konsumen yang membuat kaos dengan desain full colour/separasi. Misal foto, ilustrasi penuh gradasi, dan desain yang multicolour dengan beragam titik raster. DTG jelas jagonya di kelas ini. Desain dengan ratusan warnapun bisa dicetak dengan perpaduan tinta CMYK sebagaimana cara kerja ink jet pada pencetakan foto. Dan harga jasa pencetakan pun tidak didasarkan pada banyaknya warna.

Sablon manual juga bisa mencetak desain/gambar full colour dengan teknik sablon separasi. Namun hasilnya tentu tidak bisa seakurat dengan DTG yang memilik presisi warna yang sudah diakui. Selain itu penyablonan separasi dengan teknik screen printingcukup ribet dan tidak semua vendor mau melayani pemesanan desain full colour/raster/gradasi.

4. Di luar produksi tentunya ada perawatan peralatan yang digunakan dalam menyablon. Bicara perawatan, maka DTG bisa dibilang 10 kali lipat lebih ekstra dibanding peralatan sablon manual. Misal dari perawatan harian yang harus mengocok tinta per 12 jam, melakukan head cleaning ketika tidak digunakan, melakukan flushing head ketika buntu, menjaga suhu ruangan, dan beragam tetek bengek lainnya. Bahkan ada yang berseloroh, “merawat printer DTG itu seperti merawat bayi”. Alamak!

Lain dengan alat-alat sablon manual yang bisa dikatakan minim perawatan. Kalau screen sudah dicuci bersih, tinta disimpan dengan wadah yang rapat, beres deh. (kaosposmo.com)