problem printer DTG sering terjadi pada headprintnya

Pemakai mesin cetak Direct to Garment alias printer DTG sering mengeluhkan banyaknya problem DTG yang menghambat produksi mereka dalam cetak-mencetak kaos. Di dalam keluhan-keluhan itu secara langsung juga menunjukkan betapa sulitnya perawatan printer DTG. Sebenarnya anggapan seperti tidak mutlak benar. Sejauh printer DTG digunakan dengan baik dan benar, mulai dari cara menghidupkan-mematikan, perawatan harian, perawatan mingguan, dan perawatan bulanan, dilakukan secara teliti maka printer DTG akan semakin menghasilkan pundi-pundi rejeki. Semakin benar cara menggunakannya, semakin sedikit risiko printer DTG ngadat.

Di antara problem printer DTG dan solusinya adalah sebagai berikut:

1. Printhead atau Tinta Mampet
Tinta tidak keluar ketika proses printing berlangsung sering dissebut sebagai printhead mampet. Masalah yang satu ini tergolong merepotkan, sekaligus berbahaya. Printhead yang macet bisa disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya kualitas tinta yang buruk, dalam arti tidak adaptable dengan head piezzo sehingga mudah mengental di dasar printhead dan menyebabkan kebuntuan.

Selain itu, kasus yang sering muncul adalah printhead buntu alias mampet karena printer jarang digunakan. Printer dengan tinta putih yang kekentalannya lebih tinggi dibanding dengan tinta pada umumnya sangat riskan menyebabkan head buntu ketika tidak digunakan untuk mencetak setiap hari.

Kondisi ruangan yang panas juga memudahkan tinta mengering di dasar printhead. Hal ini belum banyak disadari oleh pemilik printer DTG.

2. Hasil Cetak Tidak Presisi
Kepresisian atau ketepatan posisi hasil cetak tergolong isu utama DTG. Rata-rata proses cetak kaos dengan printer DTG berjalan dua tahap, pertama cetak tinta putih sebagai underbase (dasar), dan cetak warna. Bila hasil cetakan pertama dan kedua mengalami pergeseran tentu menjadi problem, sangan mungkin customer tidak puas karena tampilan hasil cetak yang tidak sempurna.

Masalah mispresisi atau ketidakpresisian printer DTG sering disebabkan oleh linear bearing atau rel bearing yang bermasalah. Misal pergerakan real bearing tidak lancar, atau kualitas rel bearing yang memang buruk, tidak berkinerja mengarahkan tatakan printer secara lurus dan baik.

Namun masalah mispresisi itu juga sering disebabkan karena encoder printer DTG yang kotor. Encoder berbentuk mika dengan sensor warna merah inilah yang mengontrol gerakan motor printer sehingga mampu menggerakkan tatakan kaos ke arah depan (maju) ketika proses cetak. Jika encoder ini kotor oleh debu, maka gerakan printer bisa kacau, karena encoder ini adalah pembaca pesan terakhir yang mengarahkan gerakan printhead untuk suatu objek di posisi mana. Encoder yang kedua adalah encoder transparan benbentuk pita mika yang berada di belakang punggung chip cartrdige atau rumah printhead.
3. Selang Tinta yang Berongga
Tinta sering kali naik kembali ke tabung, dan itu menyebabkan selang terisi dengan udara. Ini disebut sebagai gejala “masuk angin” pada printer DTG.

Selang berongga bisa disebabkan karena printer jarang digunakan sehingga tinta dari dumper naik kembali ke tabung tinta. Sebab lain adalah tabung tinta yang tidak ditutup dengan rapat yang menyebabkan udara bergerak masuk ketika printer selesai digunakan.

Untuk mengatasi ketiga hal tersebut, perawatan yang harus dilakukan terhadap printer DTG adalah sebagai berikut:
– Menempatkan printer DTG di ruangan yang sejuk. Menggunakan AC adalah langkah terbaik.
– Membersihkan printhead DTG sebelum dan sesudah digunakan untuk mencetak kaos.
– Melakukan cleaning setiap hari ketika printer tidak digunakan untuk memproduksi kaos DTG.
– Menetesicapping station headprint dengan cleaner solution sebelum mematikan printer. Ini dilakukan untuk menjaga kelembaban permukaan printhead sehingga memperlambat pengeringan printhead.
– Mengocok tinta tiap 12 jam agar tidak mengental.
– Melakukan perawatan mingguan terhadap real bearing. Perawatan di antaranya membersihkan rel bearing dan memberinya pelumas.
– Membersihkan encoder printer DTG setiap seminggu sekali.
– Jika menggunakan tabung tinta konvensional, maka tabung harus ditutup rapat ketika printer DTG selesai digunaka. Menggunakan tinta kantong (bagged ink) adalah solusi yang disarankan untuk menghindari terjadinya selang infus yang masuk angin. (kaosposmo.com)