Perbedaan DTG dan sablon manual di antaranya terletak pada kemampuanya menyablon kaos secara satuan dan massal.

Perbedaan DTG dan sablon manual di antaranya terletak pada kemampuanya menyablon kaos secara satuan dan massal.

Sebelum memahami perbedaan DTG dan sablon manual, ada baiknya mengetahui DTG secara sekilas.

Teknologi Direct To Garment (DTG) sudah sekitar satu dekade berkembang di Indonesia. Namun masih banyak orang awam tentangnya. Pertanyaan yang acap muncul: “Apa sih DTG itu? Apa perbedaan DTG dengan sablon manual biasa (screen printing)?”

Dalam dunia perkaosan, DTG ataupun screen printing hanyalah teknik mencetak desain/gambar ke media kain kaos. Ya, keduanya sekadar cara mencetak belaka!

Screen printing dikenal dengan istilah sablon manual alias gesut. Cara kerjanya adalah mencetak desain/gambar dengan kain saring/ayak (screen) dengan kerapatan tertentu. Dengan berbagai tahapan, mulai dari afdruk atau setting film, membuat komposisi warna tinta, hingga menggesutkan tinta di atas screen, dsb sampai  desain/gambar tercetak di atas kaos. Prosesnya rumit dengan berbagai peralatan sablon.

Sedangkan DTG adalah teknik sablon dengan menggunakan mesin cetak yang secara mencetak desain/gambar ke kaos. Bayangkan kita sedang mencetak sebuah foto dengan printer.DTG persis semacam itu cara kerjanya. Tapi media cetaknya bukan kertas, melainkan kain kaos. Walhasil cara kerja DTG bisa dikatakan lebih efisien.

Dua teknik ini pada faktanya menghasilkan produk yang berbeda karakteristiknya. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Itulah perbedaan DTG dan sablon manual dari sisi sablon massal atau satuan.